Lidah merupakan episode badan yang dapat menjadi salah satu media mendekatkan diri kepada Tuhan SWT. Caranya yakni dengan mempergunakan pengecap untuk melakukan perintah Tuhan menyerupai membaca Al-Qur’an, saling menasihati, membagi ilmu dan masih banyak amalan kebaikan lainnya.
Akan tetapi di lain sisi, pengecap juga pengecap laksana pedang yang dapat melukai siapapun yang tidak mampu mempergunakannya dengan baik. Bahkan ancaman pengecap menjadi salah satu perkara yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah.
Ternyata, pengecap seseorang mampu menjerumuskan dirinya ke dalam api neraka. Tidak hanya itu saja, ada pula dua jenis kerusakan yang dapat disebabkan oleh pengecap yang dapat menggugurkan semua amal. Kerusakan apa sajakah yang dimaksud? Berikut ulasannya.
1. Lidah yang Banyak Bicara Kebatilan
Kerusakan yang disebabkan oleh pengecap yang pertama ialah pengecap yang banyak berbicara mengenai kebatilan. Seperti yang diketahui bergotong-royong pengecap itu laksana pedang yang sangat tajam yang dapat melukai diri sendiri dan bahkan juga orang lain.
Kebatilan di sini maksudnya ialah berbicara yang tidak perlu. Karena hal ini, si insan tersebut mampu saja tergiring ke dalam neraka. Meskipun dirinya gemar berbuat kebaikan dan menerima banyak pahala, akan tetapi kerusakan pengecap dapat membuatnya berdosa karena kedzalimannya tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang gulung tikar di kalangan umatku yakni orang yang pada hari final zaman nanti datang membawa pahala shalat, zakat dan puasa, namun di samping itu ia membawa dosa mencela, memaki, menuduh zina, memakan harta dengan cara yang tidak benar, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.” (HR.Muslim)
Kata-kata batil yang dikeluarkan oleh pengecap bukan hanya tidak bermanfaat akan tetapi juga dapat menyebabkan relasi baik dalam masyarakat menjadi rusak. Maka dari itu, alangkah lebih baik kalau kita memikirkan segala sesuatu yang hendak diucapkan biar tidak mengakibatkan kesesatan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Tuhan dan hari final hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).
“Sesungguhnya orang yang paling saya benci dan paling jauh dariku di alam abadi nanti yakni orang yang paling jelek akhlaknya, orang yang banyak bicara, orang yang berbicara dengan ekspresi yang dibuat-buat dan orang yang sombong.” (Jami’ al-Shaghir).
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.”. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk jago neraka”.
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk jago surga.” (HR.Muslim).
Kebanyakan kerusakan ilmu itu diakibatkan oleh banyaknya perkataan batil. Mereka jago dalam berbicara akan tetapi tidak memiliki ilmu. Maka tidak heran kalau pembicaraan orang yang demikian hanya membawa kesesatan, memcerai beraikan relasi serta memecah tali silaturahmi.
2. Lidah yang Diam Terhadap Kebatilan
Kerusakan yang kedua yakni pengecap yang membisu terhadap kebatilan, biasanya jenis ini akan menyembunyikan kebenaran dan justru membiarkan kebatilan. Imam Ibn Hajar dalam kitab al-Shawa’iq al-Muhriqah mengatakan, orang yang dilaknat Tuhan yakni seorang cerdik (ulama’) yang mendiamkan terhadap bid’ah agama.
Dalam hadis tersebut di atas, Rasulullah SAW tidak sekedar memerintahkan untuk diam, akan tetapi hadis itu memberi pelajaran kita untuk tidak berkata kecuali yang baik dan benar.
Tidak selamanya membisu itu yakni emas, karena orang yang terus menerus membisu yakni orang yang terbelakang dan Rasulullah tidak mengajarkan hal yang demikian ini. Maka dari itu, apabila tidak tahu bertanyalah kepada orang yang lebih mengetahui dengan demikian maka kita tidak lagi membisu terhadap kebatilan.
Sufyan ats-Atsauri Rahimahullah berkata:“Ibadah yang pertama kali yakni diam, kemudian menuntut ilmu, mengamalkan, menghafal dan menyampaikannya.”
Terlebih lagi kalau kita cerdik dan tetap mendiamkan kebatilan, maka itu menjadi salah satu sumber kerusakan agama. Maka tidak heran jika Rasulullah senantiasa menyuruh kita untuk berhati-hati dengan perkara pengecap ini.
“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang saya akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, `Rabbku yakni Allah`, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang pengecap dia sendiri, lalu bersabda: “Ini.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Demikianlah gosip mengenai dua kerusakan yang disebabkan oleh lidah. Sudah semestinya kita mempergunakan pengecap sesuai dengan fungsinya yakni bertutur kata yang baik dan memberikan segala sesuatu yang baik pula. Ingatlah bahwa dikala kebatilan dibiarkan maka itu tidak hanya merusak iman namun juga dapat memecah belah persatuan.
Akan tetapi di lain sisi, pengecap juga pengecap laksana pedang yang dapat melukai siapapun yang tidak mampu mempergunakannya dengan baik. Bahkan ancaman pengecap menjadi salah satu perkara yang paling dikhawatirkan oleh Rasulullah.
Ternyata, pengecap seseorang mampu menjerumuskan dirinya ke dalam api neraka. Tidak hanya itu saja, ada pula dua jenis kerusakan yang dapat disebabkan oleh pengecap yang dapat menggugurkan semua amal. Kerusakan apa sajakah yang dimaksud? Berikut ulasannya.
1. Lidah yang Banyak Bicara Kebatilan
Kerusakan yang disebabkan oleh pengecap yang pertama ialah pengecap yang banyak berbicara mengenai kebatilan. Seperti yang diketahui bergotong-royong pengecap itu laksana pedang yang sangat tajam yang dapat melukai diri sendiri dan bahkan juga orang lain.
Kebatilan di sini maksudnya ialah berbicara yang tidak perlu. Karena hal ini, si insan tersebut mampu saja tergiring ke dalam neraka. Meskipun dirinya gemar berbuat kebaikan dan menerima banyak pahala, akan tetapi kerusakan pengecap dapat membuatnya berdosa karena kedzalimannya tersebut.
Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang gulung tikar di kalangan umatku yakni orang yang pada hari final zaman nanti datang membawa pahala shalat, zakat dan puasa, namun di samping itu ia membawa dosa mencela, memaki, menuduh zina, memakan harta dengan cara yang tidak benar, menumpahkan darah, dan memukul orang lain.” (HR.Muslim)
Kata-kata batil yang dikeluarkan oleh pengecap bukan hanya tidak bermanfaat akan tetapi juga dapat menyebabkan relasi baik dalam masyarakat menjadi rusak. Maka dari itu, alangkah lebih baik kalau kita memikirkan segala sesuatu yang hendak diucapkan biar tidak mengakibatkan kesesatan bagi dirinya sendiri dan juga orang lain.
Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Tuhan dan hari final hendaknya ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).
“Sesungguhnya orang yang paling saya benci dan paling jauh dariku di alam abadi nanti yakni orang yang paling jelek akhlaknya, orang yang banyak bicara, orang yang berbicara dengan ekspresi yang dibuat-buat dan orang yang sombong.” (Jami’ al-Shaghir).
Suatu hari seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW seraya berkata, “Ya Rasulullah! Sungguh si fulanah itu terkenal banyak shalat, puasa, dan sedekahnya. Akan tetapi juga terkenal jahat lidahnya terhadap tetangga-tetangganya.”. Maka berkatalah Rasulullah SAW kepadanya, “Sungguh ia termasuk jago neraka”.
Kemudian laki-laki itu berkata lagi, “Kalau si fulanah yang satu lagi terkenal sedikit shalat, puasa dan sedekahnya, akan tetapi ia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Maka Rasulullah SAW berkata, “Sungguh ia termasuk jago surga.” (HR.Muslim).
Kebanyakan kerusakan ilmu itu diakibatkan oleh banyaknya perkataan batil. Mereka jago dalam berbicara akan tetapi tidak memiliki ilmu. Maka tidak heran kalau pembicaraan orang yang demikian hanya membawa kesesatan, memcerai beraikan relasi serta memecah tali silaturahmi.
2. Lidah yang Diam Terhadap Kebatilan
Kerusakan yang kedua yakni pengecap yang membisu terhadap kebatilan, biasanya jenis ini akan menyembunyikan kebenaran dan justru membiarkan kebatilan. Imam Ibn Hajar dalam kitab al-Shawa’iq al-Muhriqah mengatakan, orang yang dilaknat Tuhan yakni seorang cerdik (ulama’) yang mendiamkan terhadap bid’ah agama.
Dalam hadis tersebut di atas, Rasulullah SAW tidak sekedar memerintahkan untuk diam, akan tetapi hadis itu memberi pelajaran kita untuk tidak berkata kecuali yang baik dan benar.
Tidak selamanya membisu itu yakni emas, karena orang yang terus menerus membisu yakni orang yang terbelakang dan Rasulullah tidak mengajarkan hal yang demikian ini. Maka dari itu, apabila tidak tahu bertanyalah kepada orang yang lebih mengetahui dengan demikian maka kita tidak lagi membisu terhadap kebatilan.
Sufyan ats-Atsauri Rahimahullah berkata:“Ibadah yang pertama kali yakni diam, kemudian menuntut ilmu, mengamalkan, menghafal dan menyampaikannya.”
Terlebih lagi kalau kita cerdik dan tetap mendiamkan kebatilan, maka itu menjadi salah satu sumber kerusakan agama. Maka tidak heran jika Rasulullah senantiasa menyuruh kita untuk berhati-hati dengan perkara pengecap ini.
“Wahai Rasulullah, katakan kepadaku dengan satu perkara yang saya akan berpegang dengannya!” Beliau menjawab: “Katakanlah, `Rabbku yakni Allah`, lalu istiqomahlah”. Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang paling anda khawatirkan atasku?”. Beliau memegang pengecap dia sendiri, lalu bersabda: “Ini.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Demikianlah gosip mengenai dua kerusakan yang disebabkan oleh lidah. Sudah semestinya kita mempergunakan pengecap sesuai dengan fungsinya yakni bertutur kata yang baik dan memberikan segala sesuatu yang baik pula. Ingatlah bahwa dikala kebatilan dibiarkan maka itu tidak hanya merusak iman namun juga dapat memecah belah persatuan.
