Museum aneh - Bagi banyak orang, museum selalu identik dengan sejarah atau benda-benda purbakala. Kita pun mampu dibilang jarang yang menganggap museum sebagai suatu destinasi utama. Mungkin alasannya ialah tempatnya yang membosankan kali ya.
Namun bekerjsama museum pun punya banyak jenis. Selain untuk memperkenalkan benda-benda bersejarah atau benda yang dapat dianggap sebagai warisan dari budaya leluhur, museum sendiri dapat diartikan sebagai kawasan koleksi yang dapat dikunjungi oleh masyarakat umum. Dan koleksi disini tidak saja berarti koleksi dari benda-benda atau hal-hal yang berbau tempo dulu saja. Namun koleksi dari hal-hal yang bekerjsama sangat dekat dengan kebiasaan kita ketika ini pun mampu jadi museum untuk 30 atau 50 tahun ke depan.
Seperti misalnya tisu basah. Walaupun hingga ketika ini orang-orang di seluruh dunia bersahabat dengan tisu basah, namun di Amerika sana tisu berair sudah mempunyai museum tersendiri. Bahkan koleksi dari museum berjulukan Moist Towelette ini berasal dari seluruh penjuru dunia.
Sebenarnya, museum-museum yang ibarat dengan Museum Tisu Basah yang terletak di Michigan itu sangat banyak di dunia. Tetapi, ada keterkaitan dari museum-museum kontemporer itu yaitu bersumber dari ilham pengoleksian seseorang atau sekelompok orang yang secara sengaja maupun tidak dalam pengumpulannya. Sehingga, kalau kau tengok Google dengan kata kunci “museum aneh” atau “weird museum” kau bakal bertemu dengan banyaknya museum-museum asing yang tersebar di segala penjuru dunia.
Yuk kita cek museum-museum asing apa saja yang mampu buat kau terperangah.
1. Museum Chinsekikan
Museum yang terletak di bab utara Tokyo tepatnya di Chichibu, Jepang ini mampu dibilang punya koleksi unik. Pasalnya, 1700 lebih koleksinya itu mengingatkan kita pada Kuil Many-Faced God dalam film serial “Game of Thrones”. Bedanya, kalau dalam film tersebut wajah-wajah yang menempel pada dinding-dinding kuil ialah wajah asli insan yang diawetkan, namun dalam Museum Chinsekikan merupakan koleksi kerikil yang meyerupai wajah manusia. Museum yang diprakarsai oleh Shoji Hayama ini dibangun setelah pengoleksian langsung Shoji yang memakan waktu hampir 50 tahun. Dikutip dari Forbes, 100% dari koleksi yang ada dalam Museum Chinsekikan ini merupakan kerikil alami tanpa proses yang dibuat-buat. Para pakar geologis sudah membuktikannya dan mengatakan bahwa wajah-wajah yang tergambar dalam kerikil merupakan proses sedimentasi alami.
2. Museum Tisu Basah
Museum Tisu Basah atau Moist Towelette Museum ini terletak di Michigan, Amerika. Berawal dari hobi John French mengoleksi beragam tisu berair yang ia dapatkan dari tempat-tempat ibarat KFC, Hard Rock Cafe, ataupun dari milik maskapai pesawat terbang. Karena koleksinya itu sudah sedemikian banyak, maka John French pun berinisiatif mendirikan museum sendiri. Selain koleksi pribadi, tisu-tisu berair itu ia dapatkan juga dari santunan orang lain. Sehingga, mampu dibilang koleksi John French merupakan koleksi tisu berair terlengkap yang berasal dari segala penjuru dunia.
3. Museum Kegagalan
Gambar diatas bukannya mau review produk ya. Tetapi, ini ialah satu teladan dari koleksi milik Museum Kegagalan atau Museum of Failure yang terletak di Swedia. Entah apa yang ada dalam pikiran Samuel West, seorang psikolog yang merupakan inisiator dari pendirian museum ini. Museum of Failure sendiri terbilang belum lama berdiri. Diresmikan 7 Juni 2017. Adapun koleksinya terbilang cukup banyak dan tidak terbatas pada produk-produk teknologi saja. Produk makanan ibarat Colgate Beef Lasagne juga termasuk dalam produk gagal yang menjadi koleksi dari museum ini. Menurut Samuel, 80-90% dari produk-produk yang diluncurkan di dunia mengalami kegagalan. Kegagalan dapat berupa salah membaca pasar, riset kebutuhan, atau salah pengemasan produk dan yang sudah pasti ialah gagal meraup untuk banyak. Semisal produk N-Gage sendiri misalnya, dapat dikategorikan sebagai mobile phone games pertama alasannya ialah secara fisik yang lebih ibarat Game Boy Advance. Ratingnya sendiri cukup tinggi sehingga Nokia meluncurkan N-Gage generasi kedua. Namun, alasannya ialah salah pembacaan pasar, ditambah ketidaksabaran dari Nokia itu sendiri yang menganggap terbatasnya koleksi game sehingga harus menghentikan produksi dan pemasaran N-Gage. Padahal, selang beberapa tahun dari dihentikannya produksi N-Gage, masa mobile game benar-benar terwujud dengan koleksi game yang berasal dari Playstore. Selain N-Gage, produk-produk ibarat Orbitoclast Lobotomy (medical instrument), parfum Harley-Davidson, Kodak Digital Camera, Sony Betamax, Lego Fiber Optics, Apple Newton, Google Glass dan Twitter Peek juga menjadi koleksi dari Museum Kegagalan ini.
4. Museum Patah Hati
Entah apa yang ada dalam pikiran mantan dua sejoli Olinka Vistica dan Drazen Grubisic ini. Kedua seniman Kroasia tersebut memutuskan untuk mengumpulkan barang-barang yang mereka anggap mewakili dari bukti cinta mereka yang kandas. Kendati korelasi mereka telah kandas, namun ilham mereka wacana mengumpulkan barang-barang itu sekaligus memperlihatkannya ke publik benar-benar berhasil. Alhasil, ketika ini ada dua Museum Patah Hati atau Museum of Broken Relationships. Satu di Zagreb, Kroasia dan satu lagi di Los Angeles, Amerika. Tidak saja barang-barang langsung milik Olinka dan Drazen saja yang dipajang, melainkan barang-barang milik pasangan-pasangan lain yang juga menghadapi problem yang sama; putus cinta alias patah hati. Barang-barang koleksi itupun tidak sekedar jadi koleksi begitu saja, tetapi juga dipajang dengan sedikit dongeng dibaliknya. Sebuah kapak, sebuah borgol palsu berwarna merah jambu, koleksi majalah playboy, sepasang implan silikon, hingga pakaian dalam wanita dipajang di museum ini.