Senin, 15 Januari 2018

Setiap Kemenangan Butuh Kesabaran (Sebuah Renungan)


Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang baca koran… ayah anak“Ayah, ayah” kata sang anak…

“Ada apa?” tanya sang ayah…..

“aku capek, sangat capek … saya capek alasannya ialah saya berguru mati matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku mampu dapat nilai bagus dengan menyontek…aku mau menyontek saja! saya capek. sangat capek…

saya capek alasannya ialah saya harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, saya ingin kita punya pembantu saja! … saya capel, sangat capek …

saya cape alasannya ialah saya harus menabung, sedang temanku mampu terus jajan tanpa harus menabung…aku ingin jajan terus! …

saya capek, sangat capek alasannya ialah saya harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara hingga saya sakit hati…

saya capek, sangat capek alasannya ialah saya harus menjaga sikapku untuk menghormati sobat teman ku, sedang sobat temanku seenaknya saja bersikap kepada ku…

saya capek ayah, saya capek menahan diri…aku ingin menyerupai mereka…mereka terlihat senang, saya ingin bersikap menyerupai mereka ayah ! ..” sang anak mulai menangis…

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata ” anakku ayo ikut ayah, ayah akan menawarkan sesuatu kepadamu”, lalu sang ayah menarik tangan sang anak kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang… lalu sang anak pun mulai mengeluh ” ayah mau kemana kita?? saya tidak suka jalan ini, lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka alasannya ialah tertusuk duri. badanku dikelilingi oleh serangga, berjalanpun susah krn ada banyak ilalang… saya benci jalan ini ayah” … sang ayah hanya diam.

Sampai balasannya mereka hingga pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang…

“Wwaaaah… daerah apa ini ayah? saya suka! saya suka daerah ini!” sang ayah hanya membisu dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah” ujar sang ayah, lalu sang anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah kau mengapa di sini begitu sepi? padahal daerah ini begitu indah…?”

” Tidak tahu ayah, memangnya kenapa?”

” Itu alasannya ialah orang orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tau ada telaga di sini, tetapi mereka tidak mampu bersabar dalam menyusuri jalan itu”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya yah? alhamdulillah”

” Nah, balasannya kau mengerti”

” Mengerti apa? saya tidak mengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan supaya kita mendapat kemenangan, menyerupai jalan yang tadi… bukankah kau harus sabar ketika ada duri melukai kakimu, kau harus sabar ketika lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar ketika dikelilingi serangga… dan balasannya semuanya terbayar kan? ada telaga yang sangatt indah.. seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? kau tidak akan mendapat apa apa anakku, oleh alasannya ialah itu bersabarlah anakku”

” Tapi ayah, tidak mudah untuk bersabar ”

” Aku tau, oleh alasannya ialah itu ada ayah yang menggenggam tanganmu supaya kau tetap berpengaruh … begitu pula hidup, ada ayah dan ibu yang akan terus berada di sampingmu supaya ketika kau jatuh, kami mampu mengangkatmu, tapi… ingatlah anakku… ayah dan ibu tidak selamanya mampu mengangkatmu ketika kau jatuh, suatu ketika nanti, kau harus mampu bangun sendiri… maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri… seorang cowok muslim yang kuat, yang tetap sabar dan istiqomah alasannya ialah ia tahu ada Tuhan di sampingnya… maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan ketika yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang… maka kau tau balasannya kan?”

” Ya ayah, saya tau.. saya akan dapat surga yang bagus yang lebih bagus dari telaga ini … sekarang saya mengerti … terima kasih ayah , saya akan tegar ketika yang lain terlempar ”

Sang ayah hanya tersenyum sambil menatap wajah anak kesayangannya.

Nida Tsaura S <nida.tsaura@gmail.com>
Disqus Comments