Namanya Jetsun Pema. Meskipun masih muda, beliau memiliki kepribadian yang hangat dan sifat yang baik.
"Sebagai raja, kini saatnya saya menikah. Melalui aneka macam pertimbangan, saya memutuskan ijab kabul itu akan dilangsungkan tahun ini," kata raja yang gres berusia 31 tahun itu.
Pengumuman itu disampaikannya ketika membuka sidang parlemen. "Namanya Jetsun Pema. Meskipun masih muda, beliau memiliki kepribadian hangat dan sifat yang baik," ujar raja lulusan Oxford itu.
Raja termuda dunia yang dijuluki "Pangeran Impian" itu tersenyum ketika mengumumkan nama calon istrinya yang kuliah di Regents College, London, Inggris, itu.
Pengumuman itu disambut tepuk tangan meriah dari para anggota parlemen. Padahal, tepuk tangan pada sebuah program formal dianggap melanggar tata krama. Di negara kecil di lereng Pegunungan Himalaya itu, menawarkan kebahagiaan di depan umum dianggap tidak sopan.
"Rakyat mungkin menduga ratu saya harus berpendidikan tinggi, cantik, dan yang terbaik," sebuah media lokal mengutip ucapan Raja Wangchuck. "Jetsun Pema yaitu gadis baik yang sangat mendukung dan saya memercayainya. Saya tidak tahu pendapat rakyat wacana dia. Namun, menurut saya, beliau memiliki semua kualitas yang diharapkan dari setiap perempuan."
Wangchuck mengaku cukup lama mengenal Pema dan gadis itu sudah mendampinginya dalam beberapa kunjungan ke sejumlah wilayah di negaranya.
Meskipun yang menikah raja, ijab kabul itu tidak akan dilangsungkan secara mewah. "Memang ada perayaan, tetapi Yang Mulia meminta pemerintah tidak membuat rencana besar ataupun menggelar perayaan besar. Selain sebab kurangnya sumber daya (di Bhutan), juga sebab Yang Mulia menginginkan perayaan itu lebih erat dan pribadi," terperinci Dorji Wangchuck.
Wangchuck yaitu raja kelima semenjak Kerajaan Bhutan bangun pada 1907. Dia putra dari istri ketiga dan anak lelaki tertua. Dia dinobatkan sebagai raja pada November 2008 setelah ayahnya, Jigme Syngye Wangchuck, turun takhta.
Keluarga Kerajaan Bhutan sangat dihormati rakyatnya, bahkan setelah kerajaan terpencil itu berkembang menjadi kerajaan berkonstitusi. Wangchuck merupakan salah satu pendukung demokrasi di negara itu.
Selama beberapa waktu, Bhutan tidak memiliki listrik, jalan, sekolah, bahkan rumah sakit. Pada tahun 1999, negara itu mencabut larangan televisi kabel dan internet. Namun, hingga kini di negara itu tidak ada lampu lalu lintas.
Keluarga Kerajaan Bhutan sangat tertutup dan tidak banyak rakyat yang tahu, termasuk wacana ijab kabul di lingkungan kerajaan. Salah satunya, ayah Wangchuck yang menikahi empat perempuan bersaudara. Meskipun ijab kabul itu sudah berlangsung bertahun-tahun, perayaan formalnya gres digelar pada 1988.
sumber:
international.kompas.com