Rabu, 17 Januari 2018

Andreas Panayiotou, Percaya atau Tidak, Ialah Miliarder dari Inggris yang Tak Bisa Baca Tulis (Buta Huruf)

Andreas Panayiotou memiliki kerajaan properti senilai 400 juta poundsterling  (Rp 5.5 triliun) dan menduduki peringkat 200 orang terkaya di Inggris. ia membuat legalisasi mengejutkan. “Saya tidak bisa membaca,” katanya.

Ayah lima anak itu bukannya tidak mau berguru membaca. “Waktu kecil saya berusaha keras semoga bisa membaca,” kata lelaki 45 tahun itu. Dia memutuskan berhenti sekolah pada umur 14 tahun.

Di luar problem disleksia, Panayiotou tak membantah bahwa ia benci membaca waktu masih kecil. “Jadi setelah remaja saya punya cara tertentu untuk menghindarinya.”

Kaprikornus ia memiliki trik khusus untuk mengakali kelemahannya itu. “Saya memiliki daya ingat yang luar biasa, photographic memory. Saya mengenali bentuk untuk mengenali sebuah kata, tanpa perlu bisa membaca,” ujarnya.

Di jalan misalnya, ia selain menghapalkan tanda lalu lintas, ia menghapalkan bentuk kata nama jalan ataupun nama kota. Sayangnya trik itu tidak berlaku pada setiap hal. “Kalau ada nama belakang gres yang saya tidak mengenali, saya tidak mungkin bisa. Begitu juga dengan mengisi formulir ibarat paspor. Itu area terlarang saya,” ujar lelaki yang pernah menjadi petinju itu.

Meskipun memiliki kekurangan seserius itu, ia berhasil membangun sebuah kerajaan bisnis yang mengagumkan. Di usia muda, anak imigran Yunani itu membeli sebidang tanah kecil di Islington. Pelan-pelan ia membangunnya menjadi gedung apartemen. Dari situlah bisnisnya berkembang. Pada 2007, ia berhasil menjual ribuan rumah. Kini fokusnya beralih ke hotel.

Perusahaannya, The Ability Group, kini memiliki tujuh hotel. Yang paling gres ialah Hotel Waldorf-Astoria London senilai 70 juta poundsterling (Rp 979 miliar). Dia juga akan menjual “rumah termahal di Inggris”, sebuah properti yang gres direnovasi di Hamstead. Dia berharap rumah itu laku dengan harga 100 juta poundsterling (Rp 1,3 triliun).

Rumah pribadinya di Epping Forest seluas delapan hektare. Dia juga memiliki tiga pesawat langsung dan sebuah kapal pesiar.

Dia yakin kesuksesannya ialah gara-gara disleksia alasannya ialah dengan kekurangannya itu ia harus melatih diri untuk bekerja lebih keras dibandingkan orang lain. “Semuanya, dorongan berpengaruh untuk menunjukan bahwa saya berati, kedisplinan yang sangat ketat, dan pujian atas yang sudah saya capai, merupakan hasil dari perasaan aib dan kurang yang saya alami alasannya ialah tertinggal dibanding bawah umur lain yang bisa membaca,” Panayiotou mengaku.

“Dengan membalik disleksia, Anda berhasil menyebarkan bakat lain. Saya melatih pikiran semoga memiliki daya ingat kuat. Kita jadi lebih kreatif dalam menyelesaikan problem alasannya ialah pikiran kita dipaksa bekerja untuk memahami yang terjadi di sekitar kita.”

“Pikiran kita selalu berusaha, berusaha, dan berusaha. Kita jadi lebih berpengaruh alasannya ialah berguru mengatasi problem merupakan bab dari kehidupan,” tuturnya. Panayiotou kini terlibat aktif dalam kampanye untuk mengatasi buta huruf. “Kemampuan membaca merupakan hal pokok ibarat makan,” pungkasnya. (kompas)
Disqus Comments