Sabtu, 02 Desember 2017

Mau Sewa Jaguar dan Mobil Mewah Lainnya Seharian Cuma 200 Ribu? Yok ke Sabang!

Weh atau lebih dikenal dengan Sabang, bukan hanya Iboh, Rubiah dan Gapang. Atau pun Kilometer nol serta pantai Kasih. Sabang ialah pulau isitmewa dengan tiga undang-undang yang dilekatkan republik terhadap eksistensinya sebagai tempat terluar.



Pertama undang-undang wacana kotapraja yang menetapkan statusnya sebagai tempat otonom. Kedua dan ketiga ialah undang-undang perdagangan bebas dan undang-undang pelabuhan bebas, yang mengakibatkan Sabang tidak mengutip bea masuk terhadap barang-barang impor.

Selebihnya Sabang tak ada bedanya dengan negeri lain, yang kalah bersaing meningkatkan pertumbuhan dan terhambat oleh kemiskinan infrastruktur dasar untuk bisa mensejajarkan diri dengan Batam, misalnya.

Ketiga undang-undang itu, ternyata tak bisa menebas hambatan Sabang untuk melambungkannya menjadi 'zona buffer stock' perdagangan, walaupun letaknya berada di lintasan laut terpadat di dunia. Dua undang-undang pelabuhan bebas dan undang-undang perdagangan bebasb tetap membuat Sabang tak bisa berkembang, yang anehnyanya lagi, Weh tak bisa memacu jumlah wisatawan. Padahal, siapa pun tahu Sabang punya kota Iboh yang mengundang decak kagum untuk snorkeling dan diving alasannya ialah alam bawah laut. Kota Rubiah punya terumbu karang yang menyimpang ikan hias terbaik di dunia.

Bahkan kota Gapang, dengan pantai berlekuk dan pasir putih nan elok hanya dikunjungi rombongan turis lokal diwaktu liburan panjang. Selebihnya Sabang hanya sebuah decak kagum pendatang yang kesulitan mencari hotel kelas premium atau tidak tahu harus kemana mengisi perut untuk sarapan.

Sabang memang sebuah problem ditambah pengembangan pariwisatanya terhambat alasannya ialah aturan syariat yang tak bisa menawarkan solusi untuk eksploitasi keindahan alamnya. Sabang, ibarat seorang sahabat kami dari Singapura, hanya pulau keindahan yang dipalang dengan goresan pena 'verboeden toegang'. Pulau dengan banyak larangan masuk.

Sabang memang Pulau 'Larangan Masuk' saat turis tak bisa menikmai kebebasan destinasinya dengan hukum global. Sabang masih berkutat dengan turis kunjungan jam-jaman kapal pesiar yang disambut dengan tarian ranup lampuan dan kalungan bunga untuk diberitakan sekejap, lantas menguap.

Sabang masih belum menuntaskan 'master plan' untuk apa keindahan Iboh, Rubiah dan Gapang didedikasikan. Sabang masih terjebak pada pelabuhan bebas dan perdagangan bebas yang kepalanya dilepas dan ekornya digenggam Jakarta. Sehingga pembangunannya, hanya berpusar pada dermaga dan gudang-gudang yang kapal besar tak ada yang singgah dan bangunan lapuk alasannya ialah tak ada barang yang disimpan.



Datanglah ke Sabang yang warganya merasa sombong alasannya ialah memiliki ribuan kendaraan beroda empat second eks Singapura dengan BMW dan Ferrari, motor-motor Harley, seliweran di pulau ini yang garasinya tanah kosong di celah-celah pohon kelapa.



Mobil-mobil mewah itu boleh berseliweran di Pulau Weh. Saat kapal ferry menepi ke Pelabuhan Sabang, ada kendaraan beroda empat Mercedez-Benz S Class yang parkir di pelabuhan. Mentereng sekali bersanding dengan kapal-kapal penumpang dan muatan.



Setelah itu, mobil-mobil mewah lain tampak bertebaran di seluruh penjuru Pulau Weh. Di pemukiman penduduk, di sentra kota kecil Sabang, di pantai-pantai, di depan masjid dan warung kopi. Ada BMW, Mercedez-Benz, Ford, Jaguar, bahkan Ferrari!



Simaklah para bloger yang datang sebagai turis backpacker dan menuliskan mobil-mobil mewah yang berseliweran di banyak sekali penjuru Pulau Weh. Bacalah salah satu komentar salah satu di antaranya, "Pertama pas hingga pelabuhan, di pinggir jalan ada Ferrari putih berdebu. Saya nanya ke supir kok bisa ada kendaraan beroda empat mewah begitu ?



Si supir hanya bisa bercerita, Sabang ialah zona ekonomi bebas Indonesia. Tak ada pajak di sini. Mobil-mobil mewah itu datang dari Singapura dan Malaysia. Malahan si supir juga punya Land Cruiser tahun 2008. Harganya Rp 35 juta.



Ya, sebagai zona ekonomi bebas, tak ada pajak yang berlaku di Pulau Weh. Tulisan besar di pelabuhannya pun bertuliskan 'Pelabuhan Bebas Sabang'. Terlebih lagi di pulau ini, harga mobil-mobil itu sangatlah murah dan pasti membuat verbal kita menganga.



Harga Rp 35 juta dari Land Cruiser punya si supir itu, harga aslinya Rp 5 juta saja. Rp 30 jutanya buat ongkos bawa kendaraan beroda empat dari Singapura ke Sabang Harga kendaraan beroda empat di Pulau Weh bisa hingga seperempat harga di pasaran. Rp 40-100 juta saja. Tak berbeda jauh dengan harga kendaraan beroda empat Mercedez-Benz S Class.



Menggiurkan? enggaklah. Tak ada kuota untuk membawa kendaraan itu ke luar Pulau Weh. Anda harus membayar bea cukai kendaraan beroda empat mewah sebesar 40% dari harga asli plus pajak, itu pun jikalau ada persetujuan Menteri Perdagangan. Dan izin atau persetujuan ini hanya pernah diperoleh sebanyak dua kali selama Sabang diberikan undang-undang perdagangan bebas.


OMG..!!! Admin mau yang iniiiiiii.....!!!! T__T

Pertama saat masa konflik, dengan kouta sekitar enam ribuan dan pemiliknya di daratan Aceh diberi tanda NA. Kedua pasca tsunami, yang jumlahnya sekitar dua ribu lima ratus dan di ujung plat nomornya ditandai deng X.Lupakan saja impor kendaraan beroda empat mewah itu. Kalau Anda ke Sabang di waktu liburan di pulau ini, nikmatilah kemudahan mobil-mobil mewah ini. Tak jarang penduduk setempat menyewakan mobilnya, atau mejadi supir kendaraan beroda empat carteran bagi wisatawan. Anda bisa mengelilingi Pulau Weh naik BMW, Ferrari, atau Jaguar! Harga sewanya sehari 200 ribuan. Bisa pakai supir juga, tinggal tambah harga sesuai kesepakatan,"
Disqus Comments