Sabtu, 02 Desember 2017

Fakta! Jepang VS Indonesia itu Bagai Langit Dan Bumi

Bagaimana kita mampu mengejar ketinggalan dari bangsa lain bila teladan pikir masyarakat kita yang ada tetap saja ibarat ini, kapan kita mampu mulai berguru untuk menjadi bangsa yang maju, meninggalkan kebodohan, bukan hanya kebodohan ilmu tapi juga ketertinggalan logika dan kecerdikan pekerti beretika.

Tanpa bermaksud menjelek-jelekan bangsa sendiri, mari kita mencoba berkaca dan melihat diri kita masing masing dengan 2 hal berikut ini.

Siapapun pernah berguru sejarah betapa bangsa Jepang telah bangun dari keterpurukan pasca di bom atom di Hiroshima dan Nagasaki di selesai perang dunia ke-2 dan kini menjadi 3 besar penguasa perekonomian dunia selain Amerika dan Cina. Yang terbaru begitu Jepang terpuruk lagi sebab bencana jago gempa dan tsunami, mereka begitu cepat bangun dan berbenah untuk mengejar ketertinggalan, sementara kita disini yang dikaruniai alam kaya raya hanya jalan ditempat dan bergerak lamat-lamat kolam siput.

Yang pertama disiplin antri (lihat perbedaan mencolok) betapa bangsa Jepang sangat menghargai kepentingan orang lain dan tidak egois, main serobot yang penting urusan kita beres persetan denga orang lain. Lihat perbandingan dibawah ini.

Bagaimana

Inilah pemandangan antrian belum lama ini di Jepang ketika korban Tsunami mendapatkan santunan pangan di sebuah lapangan

Bagaimana

Sementara itu, inilah kondisi bangsa kita dalam budaya antri, berebut berdesak-desakan bahkan tak jarang jatuh korban jiwa, tidak ada yang rela mengalah

Yang kedua, ialah kepedulian pemerintah terhadap infrastruktur sangat jauh berbeda, kita lihat fakta di gambar dibawah berikut ini:

Bagaimana

Ini kondisi aktual di Jepang betapa pihak pemerintah disana begitu cepat dan sigap memperbaiki infrastruktur yang rusak demi roda perekonomian kembali berputar

Sementara kondisi jalan rusak di tanah air kita seakan menjadi langganan tahunan proyek jalan rusak yang tak pernah ada hentinya, kita simak kutipan media berikut ini:

KUDUS – Perbaikan darurat jalan Pantura timur, utamanya Kudus-Pati, telah dilakukan pada awal Januari. Ditargetkan selesai sebelum lebaran tahun ini.


Sepanjang tahun akan terjadi pengerjaan jalan. Potensi kemacetan diperkirakan terus berlangsung. Sementara itu, jalur alternatif Kudus-Pati adegan selatan mulai rusak, sedangkan jalur alternatif utara membahayakan, sebab tak dilengkapi lampu penerang jalan dan pagar pembatas.


Belum adanya drainase yang memadai disepanjang jalur Kudus-Pati berpotensi menciptakan genangan air di lajur utama dan pundak jalan. Akibatnya jalan mudah rusak.


Kepala Balai Pelaksana Teknis (BPT) Bina Marga Wilayah Pati, FA Mujiono, mengatakan drainase gres disiapkan di ruas Bareng dengan panjang sekitar 500 meter. Untuk antisipasi genangan air, pihaknya juga berencana memaksimalkan parit sawah sebagai kanal pembuangan yang berada di samping jalan. Beberapa waktu lalu, usai hujan deras sebagian tubuh jalan di jalur Kudus tergenang oleh banjir. Bahu jalan becek penuh lumpur dan berair.


Bahaya Kondisi memprihatinkan terjadi di jalur alternatif. Badan jalan di Desa Bulungcangkring Kecamatan Jekulo Kudus hingga perbatasan Sukolilo Pati rusak, beberapa di antaranya rusak parah. Bahkan ketika banjir menggenangi sawah warga yang berada sempurna di samping jalan, air meluber menutupi tubuh jalan setinggi 20-50 sentimeter. Akibatnya tubuh jalan selebar 3 meter tergerus dan menyisakan kubangan yang dalam antara 10-30 sentimeter. Beberapa truk terguling sebab terperosok di kubangan jalan.


Jalur alternatif utara membahayakan sebab berada di tempat pegunungan, sehingga banyak ditemui turunan-tanjakan yang curam, serta bersinggungan pribadi dengan jurang di samping jalan. Beberapa truk yang bermuatan lebih dari 3 ton tak mampu menaiki tanjakan. Akhirnya terjebak dan diderek oleh truk lain atau kendaraan beroda empat derek. Tak adanya lampu penerang mengharuskan pengendara ekstra hati-hati .


Siti Fatimah, salah seorang mahasiswa di Kudus, mengungkapkan kekesalannya. Jarak Kudus-Pati normal hanya 30 menit, jikalau macet mampu hingga empat jam. ”Biaya transportrasi naik. Biasanya Rp 3.000, sekarang hingga Rp 5.000,” katanya dalam seminggu minimal dua kali naik bus jurusan Kudus-Pati. (H74-24) sumber


Bagaimana

Jalan rusak hingga mampu ditanami pohon pisang sering kita jumpai di tanah air kita

Lihat saja progressnya, Januari mulai dikerjakan dibutuhkan selesai sebelum Lebaran, memangnya lebaran jatuh bulan apa? Berarti butuh waktu 6 bulan pengerjaan untuk memperbaiki jalan rusak di negeri kita. Di beberapa ruas jalan lain tak jarang hingga bertahun tahun tidak ada progres perbaikan jalan rusak.

Kaprikornus terlihat sangat kontras sekali bagaimana Jepang dan Indonesia berbeda, baik dari masyarakatnya maupun pemerintahnya, lantas mau kemanakah kita ini?
Ironis!!
Disqus Comments